Konsep alam semesta menurut Sufi dan Fisikawan

Sekilas konsep `alam semesta menurut Sufi

[Sufi yang penulis maksud adalah segolongan `ulama dan ilmuwan pada abad ke 10 sampai dengan 14 Masehi, yang menggagas konsep-konsep mengenai sains dan ilmu agama yang terinspirasi dari ajaran Al-Qur’an, Hadist Nabi Muhammad SAW, sahabat Nabi, para generasi setelahnya [tabi’in] dan juga termasuk para filusuf Yunani]

Di dalam konsep sufi, alam semesta adalah sesuatu yang sakral, karena merupakan kalamullah. `Alam semesta adalah ayat Al-Kauniyah yang sejajar dengan ayat Qawliyah [Kitabullah, Al-Qur’anul Kariim]. Sehingga, perlakuan manusia terhadap `alam semesta tidak ubahnya perlakuan seorang hamba Allah terhadap Kitabullah; yaitu disakralkan, karena hal tersebut merupakan mediasi berdialog dengan Allah SWT.

Kitabullah terdiri dari serangkaian huruf, namun esensi dari Kitabullah adalah cinta Allah SWT kepada para hamba-Nya. Hamba-hamba Allah SWT selalu dapat menemukan cinta-Nya yang luar biasa dalam setiap huruf yang terdapat di dalam Al-Qur’anul Kariim, sehingga mereka akan bergetar hatinya setiap ayat-ayat tersebut dibacakan. Bergetarnya hati-hati orang yang beriman akan menambahkan keimanan dan ketentraman di dalam hati mereka.

Begitu juga, ayat Al-Kauniyah [`alam semesta]. `Alam semesta yang berupa benda [materi], pada hakikatnya adalah cinta Allah SWT kepada makhluq-makhluq-Nya. Materi yang terlihat oleh panca inderawi, pada hakikatnya adalah representasi cinta-Nya, jika dilihat dengan menggunakan fakultas hati. Untuk mendapatkan kesimpulan ini manusia harus menggunakan fakultas akal agar dapat melihat serangkaian peristiwa yang bertanggung jawab terhadap penjelasan fenomena materi.

“Alam semesta adalah materi dalam pandangan inderawi,peristiwa dalam pandangan aqaldan cinta dari Allah SWT dalam pandangan hati“

Bagi para sufi, `alam semesta adalah sesuatu yang diceburkan secara misterius ke Allah SWT; ia bukanlah Dzat Allah SWT, tapi merupakan representasi [tajalli, penampakkan] dari diri-Nya. Bukanlah Dzat-Nya, melainkan Cahaya-Nya yang terdapat di segenap pelosok langit dan bumi. Cahaya-Nya pun bertingkat-tingkat [Nuurun `alaa nuurin, An-Nuur:35]; ada Cahaya yang menjadi prasyarat mutlak bagi keberadaan `alam semesta, ada Cahaya yang diberikan kepada manusia, ada Cahaya yang diberikan kepada orang yang beriman, dan Cahaya yang tertinggi adalah Cahaya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang disebut dengan Nur Muhammadi [Nuurun fawqaa nuurin]. Cahaya ini diberikan ke para Nabi, mulai Nabi Adam a.s. [`alaihissalam] sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dan setelah Nabi Muhammad SAW meninggal disebarkan kepada para `ulama [wali Allah], dan pada akhirnya akan diberikan kepada Nabi Isa a.s ketika beliau turun menjelang akhir zaman nanti. Nabi Muhammad SAW adalah penerima seutuhnya Nur Muhammadi, karena pada zamannya hanya beliaulah Nabi yang diutus oleh Allah SWT; dan juga disebabkan Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi.

Para sufi membagi lima jenis wujud untuk menjelaskan keterkaitan Allah SWT dengan `Alam semesta. `Alam semesta adalah wujud yang diadakan [mawjud] dan memiliki berbagai macam lapis, yaitu:

1. Jabarut, `alam Zat Malaykat

2. Malakut, `alam Psikis dan manifestasi halus

3. Nasut, `alam fana dan fisik

Wujud `alam semesta bergantung sepenuhnya pada wujud Allah SWT. Wujud yang berkenaan dengan Allah SWT terdapat dua macam, yaitu:

1. Lahut, wujud Nama dan Sifat Allah SWT 2. Hahut, wujud Hakikat Ilahi. Wujud Hahut adalah Ghaib Mutlak [Maha Tersembunyi] dan tidak akan diketahui oleh wujud Nasut [dunia fana]

Kelima wujud ini akan mengantarkan kepada kepemahaman bahwa Allah SWT melingkupi `alam semesta terhadap dimensi ruang dan waktu. Allah SWT adalah ketakberhingaan mikrokosmos [Al-Ghaib, Yang Maha Tersembunyi] dan ketakberhingaan makrokosmos [Al-Zhahir, Yang Maha Nyata]; begitu juga Allah SWT adalah awal segala sesuatu [Al-Awwal] dan akhir segala sesuatu [Al-Akhir].

Sekilas konsep `alam semesta menurut Fisikawan

Sejak zaman Ibnu Hatsyam [al-hazen], Ibnu Battutah [avempace], Nashruddin Al-Thusi, yang dilanjutkan oleh Copernicus, Galileo, Newton, Maxwell, Schroedinger, Einstein, Feynman sampai dengan Edward Witten, konsep fisika telah mengalami berbagai macam proses penyempurnaan.

`Ledakan’ konsep Fisika, pertama kali terjadi ketika Newton dan Leibniz dapat memformulasikan konsep mekanika dan kalkulus pada abad ke-17. Konsep ini kemudian menjadi awal dari revolusi sains, teknologi dan industri bagi dunia ketika itu. Konsekuensi logis dari fisika Newtonian adalah `alam semesta dipandang sebatas sistem yang berkerja secara mekanistik [tidak ubahnya mesin] dan deterministik.

Revolusi fisika selanjutnya adalah pada awal abad ke-20, yaitu ketika konsep-konsep fisika mikrokosmos dan makrokosmos sudah mulai dapat dikuantitatifkan dengan baik oleh umat manusia. Konsep mikrokosmos [fisika kuantum] mengantarkan kepada pemahaman bahwa alam semesta tersusun pada partikel-partikel elementer yang bersifat probabilistik [setidaknya dalam pandangan manusia sebagai pengamat], sedangkan konsep makrokosmos [astrophysics, fisika astronomi], mengantarkan kepada pemahaman bahwa alam semesta adalah entitas yang dinamis; ia berawal dan mengembang [dan kemungkinan berakhir].

Fisika kuantum juga menyiratkan ide bahwa alam semesta adalah suatu ilusi; setiap materi tersusun atas atom, sedangkan atom terdiri atas inti atom dan elektron yang mengorbit di sekelilingnya. Posisi elektron dalam atom adalah probabilistik, begitu juga terdapat posisi-posisi yang terlarang bagi elektron, sehingga terdapat begitu banyak ruang kosong dalam atom. Konsekuensi logisnya, materi yang terlihat pada hakikatnya terdiri dari sekian banyak ruang kosong [yang terdapat di atom]; materi tetap ada disebabkan gerakan elektron yang luarbiasa harmonis sehingga menutupi seluruh ruang kosong yang terdapat di atom. Keberadaan materi ibarat kembang api yang dapat meninggalkan jejak cahaya [Ibarat ini adalah ide dari Jalaluddin Rumi].

Konsep mikrokosmos [fisika kuantum, termasuk juga elektrodinamika] ini kemudian sangat mewarnai perkembangan peradaban manusia di abad ke-20; konsep ini yang bertanggung jawab dalam revolusi teknologi yang terjadi pada abad lalu.

Revolusi fisika selanjutnya, yaitu pada abad ke-21, diprediksi akan berkenaan dengan hidden connection. Sejak terdapat kecenderungan bahwa partikel elementer selalu dapat dibagi menjadi partikel yang lebih elementer, maka sebagian fisikawan berspekulasi, bahwa terdapat ke-tak berhinggaan dalam dunia mikrokosmos, dan ketak-berhinggaan mikrokosmos dengan ke tak berhinggaan makrokosmos akan terkoneksi. Maka dari itu, sebagian ilmuwan mencoba menggagas konsep-konsep yang dapat mengantarkan ke pemahaman yang mensinergikan kedua kutub dunia tersebut. Salah satu ilmuwan yang cukup sukses dalam menggagas teori tersebut adalah Edward Witten. Beliau menggagas teori String; yaitu suatu konsep yang berbasis pada peristiwa. Sebuah partikel yang diam adalah titik dalam domain ruang, namun merupakan tali dalam domain 4 dimensi, yaitu domain ruang dan waktu. Sedangkan akan membentuk bidang dalam jika partikel tersebut bergerak.[Konsep ini kemudian diikuti oleh gagasan matematika oleh Louis Kauffman, yang membenahi teori Knot]

Selain teori string, terdapat teori yang cukup menyita perhatian sekarang ini, yaitu teori informasi kuantum. Jika pada awal abad ke-20, konsep probabilitas masuk ke ranah fisika kuantum, maka di awal abad ke-21, konsep informasi dibawa masuk ke ranah fisika kuantum. Konsep `bit’ dan `gerbang logika’ dikoneksikan dengan `vektor keadaan’ dan `operator’. Teori ilmu komputer berbasis fisika kuantum ini dapat menghasilkan beberapa konsep baru yang tidak ada sebelumnya di ilmu komputer klasik, yang selama ini telah diterima dan diaplikasikan dengan sangat baik. Gerbang universal pada teori ini melingkupi seluruh gerbang yang terdapat pada ilmu komputer klasik. Salah satu konsep yang muncul dari teori informasi kuantum adalah reversibilitas komputasi; artinya, input dan output selalu memiliki bit yang sama.

Harapan

Di abad ini semoga kita dapat menyaksikan revolusi macam apa yang akan terjadi di dunia fisika. Bagaimanakah konsekuensi dari teori string? Bagaimana pula kaitan informasi dalam fisika kuantum? Informasi macam apa yang terkandung dalam dunia mikrokosmos? Apakah `alam ini mengandung informasi cinta dari Allah SWT, sebagaimana yang dikatakan para sufi di abad ke 10 Masehi?

Semoga kita dapat termasuk para saksi … Aamiiin.

Agung Trisetyarso

Alam Semesta Berbentuk Cincin (Torus) ?!
[Alam Semesta dipandang dari asma Allah Al-Dzhahir (Maha Nyata) dan Al-Baathin (Maha Tersembunyi)]
Agung Trisetyarso
[Semoga Allah SWT merahmati Seyyed Hossein Nasr, karena begitu banyak pendapatnya saya kutip di artikel ini]
Tujuan dari penelitian fisika teori adalah menemukan hidden connections antara dunia mikrokosmos dengan dunia makrokosmos. Menentukan building block bagi materi yang membentuk alam ini, agaknya sudah bukan merupakan motivasi bagi penelitian dalam fisika, sejak terdapat kecenderungan bahwa partikel elementer alam ini selalu dapat dibagi dan menuju ketakberhinggaan.
[Ide ketakberhinggaan pada dunia mikrokosmos telah didiskusikan oleh Ibnu Sina lebih dari 700 tahun yang lalu !]
Ke-tak berhinggaan tidak hanya terdapat di makrokosmos, melainkan juga di dunia mikrokosmos.
Ajaibnya, konsep tersebut sudah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW; beliau bersabda:
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha DHAAHIR sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH TINGGI daripada-MU. Engkaulah Yang Maha BAATHIN sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DEKAT daripada-MU. Engkaulah Yang Maha AWWAL sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH DAHULU daripada-Mu. Dan Engkaulah Yang Maha AAKHIR sehingga tiada sesuatupun yang LEBIH LAMA daripada-Mu”.
Untuk memahami hadist tersebut, mungkin penjelasan Hossein Nasr di bawah ini akan berguna.
Di dalam “Sains dan Peradaban di Dalam Islam”, Seyyed Hossein Nasr menulis, bahwa terdapat lima keadaan Dunia:
1. Dunia Hakikat Ilahi (Hahut)
2. Dunia Nama dan Sifat Ilahi, juga dikenal dengan Wujud Murni (Lahut)
3. Dunia Zat Malaykat (Jabarut)
4. Dunia Psikis dan manifestasi “halus” (Malakut)
5. Dunia fana atau fisik (Nasut)
Dalam konsep Wahdatul Wujud, ‘alam pada posisi 3, 4 dan 5 adalah mawjud, yaitu sesuatu yang diadakan; sedangkan Dunia 1 dan 2 adalah Wujud Murni atau Al-Wujud.
Artinya, Lahut dan Hahut adalah syarat mutlak bagi Jabarut, Malakut dan Nasut.
Al-Dzhahir (Maha Nyata)
Allah sebagai Yang Maha Nyata terkait dengan konsep makrokosmos. Dalam pandangan ini, susunan kelima Dunia tersebut adalah sebagai berikut:
Maksud dari bagan tersebut adalah manifestasi fisik dapat dianggap sebagai lingkaran paling dalam dari satu set dari lima lingkaran yang konsentris, diikuti dengan lingkaran wujud yang lainnya berurutan, dengan lingkaran paling luar yang melambangkan Hakikat Ilahi – pandangan yang menyerupai skema kosmologis Ibnu Sina.
Al-Baathin (Maha Tersembunyi)
Pandangan yang lain tentang Allah sebagai Yang Tersembunyi, disini bagan kosmologis jadi terbalik, dalam arti, bahwa sekali lagi jika kita pandang satu set lingkaran konsentris, maka manifestasi fisik dan kasarlah lingkaran yang terluar, dan Hakikat Ilahi adalah lingkaran paling dalam. Skema ini terkait dengan konsep mikrokosmis dan dalam bentuk bagan dapat dinyatakan sebagai berikut:
Bagan ini adalah lambang mikrokosmos, yaitu manusia, padanya hal fisik ialah aspek yang paling dinyatakan terluar dan sifat spiritualnya ialah yang paling tersembunyi.
Interpretasi lain, yaitu dengan menggunakan sudut pandang ilmu fisika, bahwa partikel penyusun alam ini akan selalu dapat dibagi menuju ketakberhinggaan, dan semakin lama akan mendekati penggambaran ketersembunyian Allah SWT dalam dunia mikrokosmos.
Kesatuan Mikrokosmos dan Makrokosmos
Pertanyaannya kemudian, apakah kedua konsep ini adalah dua hal yang bertolak belakang? Apakah mungkin Allah SWT memiliki asma Al-Baathin dan Al-Dzhahir sekaligus?
Jawabnya adalah sangat mungkin.
Sekarang marilah kita tinjau bagan yang merupakan gabungan kedua bagan di atas berikut ini:
Sehingga, jika kita kaitkan bagan dunia Hahut dan Lahut pada bagan terdalam dengan bagan terluar akan menghasilkan cincin sebagai berikut:
Sehingga, dalam pandangan konsep ini, seluruh alam ini, yaitu Dunia Jabarut, Malakut dan Nasut, tidak lebih dari cincin di dunia Lahut dan Hahut, yang merupakan representasi dari Allah SWT. Pusat cincin terkait dengan Lahut dan Hahut, begitu pula dengan lingkungan di luar cincin alam semesta.
Dalam konsep sufi, dunia bukanlah Allah, tapi tidak pula ia lain dari Allah; bukannya Allah yang ada di dunia, melainkan dunialah yang “secara misterius diceburkan ke dalam Allah”.
Penggambaran ini tentu bukanlah yang paling benar; tapi setidaknya dari uraian singkat ini, kita dapat memahami betapa dalamnya penggambaran alam semesta yang telah dilakukan oleh para ‘ulama-‘ulama Islam di abad 10 Masehi.
“Subhanaka la ‘ilmalanaa illa ma ‘alamtanaa….”
“Maha Suci Engkau …. tiadalah ilmu pada kami melainkan apa yang Engkau ajarkan kepada kami … “

 

http://www.agungtrisetyarso.com/Cincin_Ilahi.pdf

Leave a comment

June 26, 2011 · 02:01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s