Ayah Edy ; peran serta orangtua dalam membangun potensi anak

Sekedar berbagi, Alhamdulillah ahad tadi saya mendapatkan ilmu yang sangat berharga dari seorang ayah yang telah berkecimpung lama dalam keprihatinan melihat perkembangan pendidikan anak di Indonesia. Halal bi Halal komunitas Sekolah Alam Indonesia, Ciganjur menghadirkan Ayah Edy sebagai pembicara tentang parenting tahun ini, dengan tema “peran serta orangtua dalam membangun potensi anak”. Meski saya tidak bisa hadir penuh karena harus berbagi waktu dengan acara yang lain, beruntung suami siap menjadi pendengar dan pembagi cerita yang baik, plus dengan analisanya terhadap 2 jagoan kami ;p. Buku buku parenting Ayah Edy best seller di pasaran, bahkan di Singapura, buku “mendidik anak zaman sekarang ternyata MUDAH LHO..” menjadi bacaan wajib bagi pasangan yang akan menikah ( di Singapura, katanya, untuk menikah, setiap pasangan harus mempunyai sertifikat semacam “surat izin menikah” sebagai pembekalan mereka karena akan menjadi orangtua kelak, sehingga mengurangi pola asuh dan pola didik yang salah terhadap anak ) dan seminar seminar beliau begitu menggugah hati orang tua dan para pendidik. Betapa anak-anak saat ini “hanya” menjadi alat ukur, yg ditakar dan dibandingkan secare homogen, seolah mereka diciptakan sama dalam semua hal, tes IQ dan hasil ujian menjadi alat andalan untuk menentukan kesuksesan sang anak. Padahal ketika lahir anak-anak kita dibekali oleh Allah SWT ( Allah menciptakan otak pertama kali ketika masih berbentuk janin di dalam kandungan ) beberapa kecedasan yang unik dan insting alami untuk mengembangkan potensi tersebut. Sehingga kita akan melihat aktivitas anak yang berbeda dalam merespon lingkungannya. Dalam suatu penelitian yang dilakukan seorang ahli psikologi ( Gardner ), ternyata ditemukan pada otak terdapat beberapa titik yang setelah diteliti ternyata titik – titik ini berhubungan langsung dengan profesi yang dijalani manusia. Ada Logic Math Smart ( mathematics, computer ), Word Smart ( Alphabet & reading activity ), Body smart ( arts, physical & motoric education ), Nature smart ( nature, science, sand & water play ), Music smart ( music & action ), Self & people smart ( character building, dramatic play, social education ). Titik – titik ini akan
berkembang maupun mengalami degradasi bergantung kepada aktivitas yang dilakukan oleh orang tersebut. Dan ternyata Titik – titik kecerdasan ini berhubungan langsung dengan sensor motorik, sehingga untuk mengetahui potensi anak kita tidak perlu lagi membedah otaknya, cukup memperhatikan aktivitasnya. Tidak selalu anak yang terlihat tidak aktif adalah anak yg tidak cerdas & tidak berbakat, bisa jadi anak kita sedang mengaktifkan potensi kecerdasan observasi & analisa atau sebaliknya, anak yang aktif bukan berarti anak yang nakal dan sulit di atur. Mereka “hanya” sedang menjalankan titik titik kecerdasan anugrah dari Allah Swt. Jadi semua anak terlahir cerdas, dalam bidang yang berbeda. Jika ditemukan akan menjadikan anak tersebut dapat menjadi “orang besar” kelak. Otak adalah organ yang lebih tumbuh dan berkembang. Titik titik kecerdasan yang Allah berikan tadi merupakan titik potensial bakat/kecerdasan anak pada otak mereka. Kecerdasan yang dibuat dengan kerja keras membentuk titik rekayasa, ciri cirinya : sukses tapi tidak bahagia. Misal ada anak yang cerdas di music tapi di”paksa diarahkan menjadi seorang dokter, akan ada titik titik rekayasa di otaknya selain titik potensial bakat yang sudah tercipta di otaknya ( brain big bang theory ). ciri ciri anak berkembang adalah mereka aktif. Otak aktif menembakkan listrik, jika tidak aktif akan membuatnya berenti menembak. Ternyata, ketika anak aktif ( yang menurut kita “nakal” atau “sulit di atur”, misal sedang membongkar mainan, melempar lempar mainan, atau aktivitas aktif lainnya, tembakan listrik di otaknya sedang ramai, namun ketika kita berteriak “askar ! cukup, hentikan buang mainannya !”, maka berefek si anak akan diam, tidak aktif lagi dan penembakanpun berenti. Padahal otak anak yang bagus adalah yang ramai dan banyak serabutnya, seperti rumput yang tumbuh subur. Anak yang kurang aktif, serabut otaknya seperti rumput yang meranggas.

Subhanallah, Allah telah mengilhamkan sistem perkembangan kecerdasan alami anak.
Level 1, TO KNOW, “this is or those are…
Level 2, TO DO, “now I feel that…
Level 3, TO UNDERSTAND, “yes, I know that…
Level 4, TO ANALYSE, “why.. ??
Level 5, TO TEST, how if we.. how about…
Level 6, TO CONCLUDE, “I found that.. the fact is… => NEW THEORY

tiap level, jangan dikebiri krn bisa mengganggu ke level berikutnya. Jika tidak bisa sampai ke level tertinggi yang akan menghasilkan NEW THEORY, yah minimal sampai ke level 4, mampu menganalisa apa yang di rasa, dilakukan dan dipahami.

Dan, Allah menganugrahkan EGOSENTRIS pada anak, perasaan yang berbuah tindakan yang kita kenal dengan sikap “membangkang”, ciri khas anak anak, yang ternyata berguna untuk menghindari kesalahan sikap orangtua dalam mengarahkan mereka. Misalnya, ketika ribbiy “memporakporandakan” mainannya, padahal ummi abinya pernah melarangnya, tapi masih saja dilakukannya, justru “alhamdulillah” berkat keegoannya dia masih menjalankan membongkar mainannya krn tuntutan titik titik kecerdasanya, akhirnya abinya menyadari ribbiy memporakporandakan mainannya ujung2nya adalah dia memisahkan mainan mainannya di taruh di tempat yg berbeda antara mainan balok2an, mobil2an, dsb antara miliknya dan milik abangnya. Andai Allah tidak mengilhamkan egosentris pada anak, langsung tidak melakukan lagi apa yang di larang, masya allah, anak bisa jadi sudah akan terkebiri di level 1.

Bagaimana membedakan kecerdasan dan perilaku buruk anak ? satu sisi kita melihat mungkin tindakan itu adalah sikap belajarnya, dan ingin mengembangkannya tapi kalau itu tindakan kurang bagus dan ingin mendidiknya salah salah menjadi menghambat perkembangan titik titik kecerdasannya. Nah, Ayah Edy mengingatkan tahapan proses belajar.
Pertama kali, itu belajar.
Kedua kalinya, menguatkan.
Ketiga kalinya, permanen.
Dan ke empat kalinya, perilaku buruk.

Jadi, usahakan tidak sampai ke empat kalinya bahkan lebih yang akhirnya membuatnya berprilaku buruk. Sedang untuk tahapan usia mendidik dan membina, Rasulullah Saw mencontohkan, ketika di bawah 5 tahun, kita cukup memberikan arahan tapi jika si anak belum mau menuruti, tidak apa apa. Tapi kalau sudah di atas 5 tahun, jika anak belum juga mau menuruti arahan / didikan kita, boleh dengan penekanan. Misalnya, makan dengan duduk, sebelum 5 tahun, kita cukup memberikan arahan, makan itu bagusnya duduk dan tidak banyak bicara ketika mulut penuh, tapi kalau sudah diatas 5 tahun, kita boleh untuk menangkap dan “mendudukkan” dia di tempatnya dan pakai macam2 aturan main.

Bagi yang ingin menyimak Ayah Edy, praktisi multiple intelligence & holistic learning, penggagas & narasumber program pendidikan keluarga “indonesian strong from home” ( membangun indonesia yang kuat dari keluarga ), bisa menyaksikan LIVE setiap sabtu pukul 10.00 – 12.00 atau ahad pukul 19.00 – 20.00 WIB nation wide broadcast by smart FM network 95,9, jakarta indovision channel 507.

Bisa jua menghubungi Ayah Edy

Praktisi Multiple Intelligence & Holistic Learning

Ayah Edy Pembicara+Smart+FM

di Parenting Center Indonesia : 0812-1818-4712 / 021-929-60078. Email : ayahedymanagement@yahoo.com, ayahedy@yahoo.com, http://www.ayahkita.blogspot.com

Ayah Edy : “siapa di sini yang masih punya bayi ?”

beberapa peserta angkat tangan..
Ayah Edy : “Alhamdulillah… berarti masih banyak yang bisa kita selamatkan..😀 “
Tags:   by ummuaskar

Leave a comment

June 30, 2011 · 20:32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s